Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur, Polri Soroti Kebiasaan Masyarakat Terobos Perlintasan Kereta

Oleh: Ahda Bayhaqi
Kamis, 30 April 2026 | 16:19 WIB
Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol. Faizal (tengah) dalam diskusi di DPR, Jakarta, Kamis (30/4/2026). (BeritaNasional/Ahda)
Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol. Faizal (tengah) dalam diskusi di DPR, Jakarta, Kamis (30/4/2026). (BeritaNasional/Ahda)

BeritaNasional.com - Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol. Faizal menyinggung kebiasaan buruk masyarakat yang kerap menerobos perlintasan kereta api. Menurut Faizal, penggunaan jalan juga perlu diberi edukasi.

Hal itu disampaikan dalam menanggapi kecelakaan kereta di Bekasi Timur, yang diawali dengan taksi Green SM yang tertabrak KRL karena menerobos perlintasan sebidang.

"Nah ini, pengguna jalan lain juga harus kita berikan edukasi. Jadi kadang-kadang Pak Sujatmiko, kalau sudah bunyi 'teng tong teng tong' bukannya berhenti kalau di kita, tapi tambah digas. Nah itu nih hebatnya kita," katanya saat diskusi di DPR, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Faizal juga juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang sering menerobos lampu lalu lintas. Bahkan, masyarakat justru punya kebiasaan untuk menancap gas ketika lampu mulai menyala kuning.

"Kuning digas, 'ayo cepat-cepat!' Nah itu harus persiapan untuk berhenti. Nah itulah mungkin bedanya kita sama di luar negeri. Kalau di kita, digas. Ini teman saya Mas Didik juga ketawa berarti sering juga melaksanakan seperti itu. Kuning, 'cepat Mas, kuning!' padahal itu bahaya sekali, berhenti," terangnya. 

Di perlintasan kereta juga sering kali orang-orang yang melintas menerobos saat palang pintu mulai tertutup. Malah, ada yang mengangkat palang pintu tersebut agar bisa lewat.

"Sama dengan di rel kereta, bahkan di rel kereta kita lihat sendiri ada yang sudah palang ditutup, diangkat sama dia. Diangkat baru lewat. Nah mohon maaf nih Bu, kadang-kadang yang ini kaum yang paling kuat yang sering begini, emak-emak nih. Angkat sama dia, kan gitu," ungkap Faizal.

Maka itu, Faizal menilai perlu ada kepatuhan dan ketaatan masyarakat di perlintasan kereta.

"Nah ini kita harus menyadari bersama bahwa kadang-kadang memang kita sadar tapi tidak patuh dan taat. Sadar iya, tapi nggak patuh dan taat ya percuma. Yang paling penting sadar, patuh, dan taat, itu yang paling bagus. Dan tidak perlu harus ada petugas atau polisi. Tanpa harus Pak Polisi juga harus ada karena itu masalah untuk kepentingan kita, untuk kepentingan pribadi kita," pungkasnya.

 sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: