KNKT Ungkap Dugaan Penyebab Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: Masalah Sinyal hingga Jeda Komunikasi

Oleh: Ahda Bayhaqi
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:49 WIB
Proses evakuasi terhadap korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. (BeritaNasional/Oke Atmaja)
Proses evakuasi terhadap korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. (BeritaNasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjanto mengungkap dugaan penyebab kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Mulai dari masalah persinyalan hingga jeda komunikasi.

Soerjanto mengungkap, masinis KA Argo Bromo Anggrek tidak bisa melihat sinyal bantu karena terdistraksi lampu perumahan dan pasar. Seharusnya, sinyal bantu itu bisa membuat KA Argo Bromo Anggrek terhindar dari kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.

"Pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga jaraknya sekitar dari tabrakan itu dari dengan penampakan 200 meter di muka sinyal bantu itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut," ungkap Soerjanto saat rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (21/5/2026).

"Tapi karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi," jelasnya.

Kemudian, sambung dia, ada masalah jeda komunikasi dari Pusat Pengendali Perjalanan Kereta Api (PK). Kereta Commuter Line melaporkan tabrakan ke stasiun dan PK Selatan. Namun, KA Argo Bromo Anggrek berada di PK Timur.

"Yang kedua, memang ketika diberikan komunikasi dari PK Timur itu ada jeda karena ada pertama dari Commuter Line yang melaporkan terjadi tabrakan itu ke stasiun, ke pengendali Selatan, Pak. Ini juga, sementara yang Argo Bromo Anggrek ini kan ada di pengendali Timur, Pak. Iya, itu dua, dua orang pengendali yang berbeda," jelas Soerjanto.

Sehingga, ada masalah jeda waktu komunikasi antara kereta Commuter Line untuk sampai ke KA Argo Bromo Anggrek. KNKT merekomendasikan agar sistem komunikasi perlu diperbaiki.

"Iya. Ini ada jeda waktu juga. Jadi di sini eh salah satu hal untuk menanggulangi kecelakaan ini adalah sistem komunikasi juga harus diperbaiki," terangnya.

KNKT pun memaparkan keruwetan komunikasi antara KRL Commuter Line dengan kereta jarak jauh. KRL yang berada di Bekasi dilakukan oleh PK Selatan. Sementara proses penyampaian informasi cukup panjang untuk sampai ke PK Timur.

"Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya. Ini yang juga perlu ada perbaikan, Pak," ungkap Soerjanto.

Maka itu, menurut KNKT, ada sejumlah permasalahan yang menyebabkan kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur. Yaitu masalah gangguan sinyal karena terdistraksi lampu perumahan dan pasar. Serta masalah jeda jalur komunikasi yang panjang.

"Jadi salah satu penyebabnya adalah selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi yang unsafe condition, di kondisi itu, Pak. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang yang ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. Ketiga adalah masalah komunikasi," pungkas Soerjanto.

 sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: