Masoud Pezeshkian Sebut Ada 3 Syarat yang Wajib Dipenuhi AS untuk Berdamai dengan Iran

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 24 Mei 2026 | 15:02 WIB
Ilustrasi gencatan senjata antara Amerika Serikat-Iran. (Foto/Gemini AI)
Ilustrasi gencatan senjata antara Amerika Serikat-Iran. (Foto/Gemini AI)

BeritaNasional.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya akan memprioritaskan perlindungan kepentingan nasional dan menerapkan prinsip kehati-hatian tingkat tinggi dalam setiap negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat menerima kunjungan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, di Teheran, Sabtu (23/5/2026).

Menurut rilis resmi kepresidenan, Pezeshkian membeberkan alasan mendasar di balik meluasnya rasa tidak percaya publik Iran terhadap Washington. 

Ia menyoroti rekam jejak AS yang berulang kali melanggar komitmen, meluncurkan serangan ke Iran di tengah proses perundingan, hingga melakukan pembunuhan tertarget terhadap sejumlah pejabat tinggi Iran.

Utamakan Hubungan Persaudaraan, Tolak Perang

Di tengah situasi pelik ini, Pezeshkian menjelaskan bahwa Iran memilih untuk bergerak maju dalam negosiasi dengan bersandar pada hubungan persaudaraan bersama negara-negara sahabat, termasuk Pakistan.

"Namun, tujuan utama kami semata-mata adalah untuk melindungi kepentingan bangsa Iran melalui solusi yang tepat," tegasnya.

"Kami hanya berupaya melindungi hak-hak hukum dan sah rakyat kami, tetapi sejarah dan pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat mendorong kami untuk berhati-hati sepenuhnya," tambahnya.

Pezeshkian juga mengingatkan bahwa konfrontasi bersenjata tidak akan pernah menguntungkan pihak mana pun. 

Menurut dia, peperangan hanya akan membawa dampak buruk dan kerugian besar bagi stabilitas kawasan maupun dunia.

Merespons hal itu, Jenderal Asim Munir yang tiba di Teheran sejak Jumat malam menyatakan komitmen Pakistan dalam menjaga stabilitas regional. 

Ia menyambut baik perkembangan proses meja perundingan saat ini dan berharap kerja sama tersebut membuahkan hasil positif bagi Iran serta negara-negara tetangga.

3 Syarat Iran: AS Harus Fleksibel atau Perundingan Gagal

Di sisi lain, laporan dari kantor berita semi-resmi Iran, Fars News, mengindikasikan bahwa dialog damai ini terancam buntu jika Washington bersikap kaku. 

Mengutip sumber internal yang dekat dengan tim negosiasi Teheran, Iran menetapkan tiga poin krusial yang tidak bisa diganggu gugat pada tahap awal ini:

  1. Masalah Nuklir: Iran dengan tegas menolak program nuklirnya dibahas dalam fase perundingan saat ini.
  2. Pencairan Aset: AS wajib mencairkan seluruh aset Iran yang dibekukan sebelum negosiasi resmi berjalan lebih jauh.
  3. Kendali Selat Hormuz: Iran bersikeras untuk mempertahankan kendali dan pengelolaan penuh atas jalur laut strategis Selat Hormuz.

Sumber tersebut menegaskan, tidak akan ada ruang untuk negosiasi lanjutan apabila ketiga isu sensitif yang menjadi sumber perselisihan utama tersebut gagal diselesaikan oleh pihak AS.

Latar Belakang Konflik dan Mediasi Pakistan

Hubungan diplomatik kedua negara sempat membara setelah Iran, Amerika Serikat, dan Israel terlibat dalam pertempuran sengit selama 40 hari. Eskalasi tersebut dipicu oleh serangan militer AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu, sebelum akhirnya ketiga pihak sepakat melakukan gencatan senjata pada 8 April.

Pasca-gencatan senjata, delegasi dari Iran dan AS sempat menggelar perundingan damai perdana di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April. Sayangnya, pertemuan tersebut berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan apa pun.

Dalam beberapa pekan terakhir, kedua belah pihak dilaporkan terus saling bertukar draf proposal yang merinci syarat-syarat untuk mengakhiri konflik secara permanen, dengan Pakistan bertindak sebagai mediator utama.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: