Puncak Haji Dimulai, Jemaah Indonesia Diberangkatkan Bertahap ke Arafah

Oleh: Harits Tryan
Selasa, 26 Mei 2026 | 09:13 WIB
Puncak Haji Dimulai, Jemaah Indonesia Diberangkatkan Bertahap ke Arafah. (Foto/Kemenhaj)
Puncak Haji Dimulai, Jemaah Indonesia Diberangkatkan Bertahap ke Arafah. (Foto/Kemenhaj)

BeritaNasional.com - Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan bahwa jemaah haji Indonesia mulai diberangkatkan secara bertahap dari hotel menuju Arafah pada Senin (25/5/2026), bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah, untuk menjalani rangkaian puncak ibadah haji. Proses pemberangkatan dilakukan dalam tiga tahap guna memastikan kelancaran pergerakan jemaah selama fase Armuzna.

“Alhamdulillah, memasuki hari ke-34 operasional penyelenggaraan ibadah haji, hari ini jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji. Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah,” ujar Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Maria Ulfa Assegaf dikutip dari laman Kemenhaj, Selasa (26/5/2026).

Maria menjelaskan, pergerakan jemaah menuju Arafah dilaksanakan dalam tiga tahap, yakni pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi. Pemerintah juga mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditetapkan dan tidak bergerak secara mandiri.

“Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman,” lanjutnya.

Selain kesiapan teknis, Kementerian Haji dan Umrah mengingatkan jemaah untuk mematuhi ketentuan ihram selama menjalani rangkaian ibadah haji. Maria menegaskan, terdapat sejumlah larangan yang harus diperhatikan baik oleh jemaah laki-laki maupun perempuan.

“Bagi jemaah laki-laki, kami ingatkan agar tidak memakai pakaian berjahit yang membentuk anggota badan, tidak menutup kepala dengan penutup yang melekat seperti peci atau sorban, serta tidak menggunakan alas kaki yang menutupi mata kaki dan tumit,” jelas Maria.

“Sedangkan bagi jemaah perempuan, selama dalam keadaan ihram tidak diperkenankan menutup wajah dengan cadar maupun menggunakan sarung tangan. Seluruh jemaah juga harus menjaga diri dari larangan ihram lainnya seperti memotong kuku, mencabut rambut, menggunakan wangi-wangian setelah niat ihram, serta menjaga lisan dan perilaku agar ibadah tetap khusyuk,” sambungnya.

Pemerintah juga menekankan pentingnya menjaga kondisi kesehatan selama fase Armuzna yang membutuhkan stamina tinggi dan mobilitas intensif. Jemaah diminta memperhatikan pola istirahat, asupan makanan, dan kecukupan cairan selama menjalani ibadah.

“Kami meminta seluruh jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, makan teratur, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas yang tidak perlu agar energi tetap terjaga selama puncak ibadah haji,” ujarnya.

“Gunakan payung, masker, dan alas kaki yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko kelelahan akibat cuaca panas. Bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu, pastikan obat pribadi selalu dibawa dan mudah dijangkau,” tambahnya.

Maria juga meminta jemaah segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan selama pelaksanaan ibadah.

“Jangan memaksakan diri. Bila merasa lemas, pusing, sesak napas, atau mengalami gangguan kesehatan lainnya, segera hubungi petugas kesehatan. Menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat berjalan aman, lancar, dan sempurna,” tegas Maria.

Untuk mendukung pelayanan kesehatan selama puncak ibadah haji, pemerintah menyiagakan fasilitas kesehatan lapangan di sejumlah titik strategis.

“Kami menyiagakan masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia di Arafah dan di Mina untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna,” kata Maria.

Selain itu, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah telah ditempatkan di berbagai titik layanan guna mendukung kelancaran operasional selama puncak haji.

“Mereka terdiri dari petugas adhoc Arafah, koordinator markas, pengawas konsumsi, dan unsur layanan lainnya yang akan memastikan transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah berjalan maksimal,” jelasnya.

Menutup keterangannya, Maria mengajak seluruh jemaah untuk saling membantu dan peduli terhadap sesama selama menjalani rangkaian ibadah di Armuzna.

“Jika melihat jemaah yang tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, mohon segera dibantu dan dilaporkan kepada petugas terdekat. Semoga seluruh jemaah Indonesia diberi kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dalam menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lontar jumrah di Mina,” pungkas Maria.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: