Serangan Israel ke Area Rumah Sakit Jabal Amel Lebanon, Puluhan Orang Tewas
BeritaNasional.com - Serangan udara yang diduga dari Israel menyasar area sekitar Rumah Sakit Jabal Amel di Tyre, Lebanon selatan, pada Senin (1/6/2026). Akibat serangan ini, puluhan orang dilaporkan tewas dan 23 orang lainnya luka-luka.
Melansir Viory, terlihat sejumlah bangunan hancur dan sejumlah kendaraan rusak, tim ambulans dan penyelamat dikerahkan ke lokasi, sementara alat berat bekerja untuk membersihkan puing-puing dan membuka kembali jalan. Kerusakan juga terjadi di dalam Rumah Sakit Jabal Amel, tapi staf medis terus merawat korban luka sembari membersihkan puing-puing yang berserakan di koridor rumah sakit.
Media lokal melaporkan, beberapa orang tewas dan 23 luka-luka akibat serangan yang menghantam sebuah bangunan tempat tinggal dan tempat parkir di dekat Rumah Sakit Jabal Amel, serta menyebabkan pemadaman listrik di unit perawatan intensif dan menyebabkan kerusakan pada infrastruktur rumah sakit.
Meskipun Israel belum berkomentar tentang serangan ini. Sebelumnya pada hari itu, Israel mengeluarkan peringatan evakuasi untuk penduduk beberapa kota dan desa di Lebanon selatan, termasuk Houmine El Faouqa, Bnaafoul, Arabsalim, Roumin, Azzah, Arki, Jbaa, Malikh dan Kfar Houneh. Peringatan itu mendesak warga untuk meninggalkan rumah mereka, dengan dalih terjadi pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah dan serangan di wilayah perbatasan Israel.
Serangan ini terjadi setelah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengumumkan bahwa mereka telah memerintahkan tentara untuk menyerang target Hizbullah di pinggiran selatan Beirut.
Setelah itu, Presiden AS Donald Trump berdialog dengan Netanyahu yang digambarkan 'bermanfaat', mengonfirmasi bahwa kesepakatan gencatan senjata telah tercapai antara Israel dan Hizbullah, tanpa serangan timbal balik yang akan dilakukan, dan tanpa pasukan yang akan dikirim ke Beirut.
Netanyahu kemudian menggunakan menyatakan melalui media sosialnya bahwa 'sikap Israel tetap tidak berubah' mengenai operasi di Lebanon selatan dan serangan terhadap Beirut, yang menurutnya akan berlanjut sampai serangan Hizbullah terhadap Israel berhenti.
Sebelumnya pada 15 April 2026, Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sepuluh hari antara Israel dan Lebanon. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang selama tiga minggu setelah pembicaraan yang diselenggarakan oleh Washington, sebelum perpanjangan 45 hari lainnya diumumkan pada pertengahan Mei.
Sementara tentara Israel telah menetapkan apa yang dikenal sebagai 'Garis Kuning' di Lebanon selatan, dalam upaya untuk mencegah penduduk kembali ke daerah-daerah yang berada di bawah kendalinya. Langkah ini memperluas taktik yang sebelumnya digunakan di Gaza, di mana tentara membatasi zona-zona di bawah kendalinya dalam perjanjian gencatan senjata dan melarang warga sipil memasuki wilayah tersebut.
Tentara Israel selanjutnya menyerukan kepada penduduk di delapan puluh kota di Lebanon selatan untuk tidak kembali ke rumah mereka, dengan menegaskan bahwa mereka tetap ditempatkan di daerah-daerah tersebut, dan membenarkan hal ini sebagai tindakan yang diperlukan untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai 'aktivitas teroris'.
Terlebih, Israel pun telah mengindikasikan niatnya untuk membangun 'zona keamanan' di wilayah Lebanon, yang membentang dari perbatasan hingga Sungai Litani—wilayah yang setara dengan sekitar sepuluh persen dari total wilayah Lebanon.
Sumber: Viory
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 21 jam yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu







