Kemenperin Sebut Kendaraan Listrik Jadi Kunci Ketahanan Energi Indonesia

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 26 Juni 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi kendaraan listrik (Foto/PLN)
Ilustrasi kendaraan listrik (Foto/PLN)

BeritaNasional.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan pengembangan kendaraan listrik menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan industri manufaktur di tengah upaya pemerintah mencapai target Net Zero Emission (NZE). Selain mengurangi emisi karbon, kendaraan listrik dinilai mampu menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi beban subsidi energi di masa depan.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik menjadi kebutuhan strategis di tengah tekanan harga energi global dan dinamika pasokan minyak dunia yang berpotensi mengganggu ketahanan energi nasional.

“Pengembangan kendaraan listrik merupakan langkah strategis yang sejalan dengan upaya pemerintah mencapai target Net zero emission sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan semakin berkurangnya ketergantungan terhadap BBM, Indonesia akan lebih siap menghadapi gejolak harga energi dan gangguan pasokan minyak dunia,” kata Febri dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Kata dia, manfaat kendaraan listrik juga telah dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama pelaku transportasi daring. Penggunaan kendaraan listrik dinilai mampu menekan biaya operasional pengemudi hingga ratusan ribu rupiah setiap bulan, sehingga memberikan ruang lebih besar bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Kendaraan listrik tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menghadirkan efisiensi ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Penghematan biaya operasional dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memperkuat daya beli masyarakat,” jelasnya.

Lebih jauh, dijelaskan bahwa berdasarkan catatan dari Kemenperin hingga Juni 2026 terdapat 91 produsen kendaraan listrik yang telah beroperasi di Indonesia, mencakup kendaraan roda dua, roda empat, hingga kendaraan komersial.

Selain itu, minat masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi juga terus meningkat. Pada periode Januari hingga April 2026, pangsa pasar kendaraan listrik gabungan Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan Battery Electric Vehicle (BEV) untuk roda empat telah mencapai sekitar 26,3 persen.

“Kenaikan pangsa pasar kendaraan listrik menjadi indikator bahwa transformasi menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan sedang berlangsung dengan baik. Ini sekaligus menunjukkan bahwa industri nasional mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang,” imbuhnya.

Febri menilai pengembangan industri kendaraan listrik memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional melalui peningkatan permintaan komponen lokal, penciptaan nilai tambah, masuknya investasi baru, serta pembukaan lapangan kerja di berbagai sektor industri.

Menurutnya, perkembangan industri pendukung seperti baterai kendaraan listrik juga semakin pesat berkat program hilirisasi sumber daya mineral nasional, khususnya nikel sebagai bahan baku utama baterai.

“Kendaraan listrik bukan hanya tentang kendaraan itu sendiri. Di belakangnya terdapat rantai pasok industri yang sangat panjang, mulai dari industri komponen, baterai, material, hingga berbagai sektor jasa pendukung yang mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional,” tuturnya.

Untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 28 Tahun 2023 yang mengatur spesifikasi, peta jalan pengembangan industri kendaraan listrik berbasis baterai, serta tata cara penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Produksi Battery Electric Vehicle (BEV) meningkat dari 1.082 unit pada 2021 menjadi 23.934 unit pada 2025. Sementara produksi Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mencapai 103.486 unit pada 2025.

“Peningkatan kapasitas produksi ini menunjukkan bahwa industri kendaraan listrik Indonesia terus berkembang dan semakin kompetitif. Dukungan regulasi, peningkatan investasi, serta penguatan TKDN menjadi fondasi penting dalam membangun industri kendaraan listrik yang kuat dan berkelanjutan,” ungkap Febri.

Ia menambahkan, komitmen pemerintah membangun ekosistem kendaraan listrik juga mendapat dukungan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan Indonesia mampu memproduksi sedan listrik secara massal pada 2028 sebagai bagian dari penguatan industri manufaktur nasional.

“Indonesia tidak hanya ingin menjadi pasar kendaraan listrik yang besar, tetapi juga menjadi basis produksi dan bagian penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik. Karena itu, Kemenperin akan terus mendukung peningkatan investasi, penguatan TKDN, serta pengembangan industri komponen dan baterai dalam negeri,” tegas Febri.

Kemenperin optimistis pengembangan kendaraan listrik akan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan industri manufaktur nasional sekaligus mendukung terciptanya ekonomi hijau yang berkelanjutan.

“Melalui sinergi pemerintah, industri, dan masyarakat, kita dapat mempercepat transformasi menuju transportasi rendah emisi sekaligus memperkuat struktur industri nasional. Mari terus mendukung produk dalam negeri dan bersama membangun masa depan industri Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan,” pungkasnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: