Era Prabowo Catat Rekor Nasional Penyiapan Rumah Subsidi Tapak

Oleh: Panji Septo R
Rabu, 21 Januari 2026 | 15:22 WIB
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Beritanasional/Panji)
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Beritanasional/Panji)

BeritaNasional.com - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyampaikan pencapaian tertinggi program rumah subsidi tapak di era Presiden Prabowo Subianto.

Maruarar menyebut capaian tahun 2025 menembus angka tertinggi sejak program dimulai pada 2010.

“Pemerintahan Presiden Prabowo dalam satu tahun ini tercatat rekor tertinggi dalam menyiapkan rumah subsidi tapak sebanyak 278 ribu, terbesar sepanjang sejarah,” ujar Maruarar di Gedung Merah Putih KPK, Rabu (21/1/2026).

Ia menegaskan rekor sebelumnya 229 ribu unit sehingga terjadi kenaikan signifikan.
Maruarar menjelaskan prioritas tahun 2026 beralih pada pembangunan rumah susun subsidi. 

Ia menyebut rencana tersebut siap dimulai setelah konsultasi dengan KPK tuntas. 

“Titik pertama hari ini saya berani menyampaikan sesudah clearance dari KPK. Dan dari pimpinan KPK bahwa tidak ada masalah secara hukum untuk dimulai pembangunan rumah susun subsidi,” ucapnya.

Ia menyoroti lompatan renovasi rumah rakyat pada dua tahun terakhir. Maruarar menyebut anggaran bedah rumah tahun 2025 berada di angka 45 ribu unit, kemudian naik drastis menjadi 400 ribu unit pada 2026.

“Kenaikannya 800 persen. Ini untuk menjawab betul-betul negara hadir,” kata Maruarar.

Ia menegaskan Presiden Prabowo berkomitmen membantu masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni. 

Program juga diarahkan pada penyediaan hunian bagi kelompok yang membutuhkan 9,9 juta rumah melalui skema subsidi. 

“Yang subsidi adalah bunganya 5 persen, DP-nya 1 persen,” ujarnya.

Maruarar menilai kebijakan Presiden Prabowo berjalan progresif dan prorakyat, termasuk pembebasan BPATB bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 

“Yang tadinya bayar jadi gratis,” katanya. 

Ia menambahkan kebijakan serupa diterapkan pada PBG yang sebelumnya dikenal sebagai IMB. 

“Yang tadinya bayar kemudian gratis,” ucapnya.sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: