Donald Trump Ingin Pertemukan Netanyahu dan Presiden Lebanon di Gedung Putih Saat Gencatan Senjata

Oleh: Harits Tryan
Jumat, 24 April 2026 | 12:31 WIB
Presiden AS Donald Trump. (Foto/Dokumentasi White House)
Presiden AS Donald Trump. (Foto/Dokumentasi White House)

BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya mempertemukan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, di Gedung Putih dalam waktu dekat, bertepatan dengan periode gencatan senjata yang diperkirakan berlangsung selama tiga minggu.

Trump menyebut pertemuan tersebut idealnya digelar selama masa gencatan senjata guna membuka peluang dialog antara kedua pihak.

"Saya pikir kita akan melakukannya selama periode ini, idealnya selama periode tiga minggu. Maksud saya, saya ingin menyarankan selama gencatan senjata tiga minggu, ya, jika Anda bisa melakukannya," katanya dikutip dari NBC News, Jumat (24/4/2026).

"Kita di sini. Kita akan melakukannya di Ruang Oval," imbuh.

Selain itu, Trump juga menyoroti peran kelompok Hezbollah dalam dinamika konflik di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa isu terkait Hezbollah perlu menjadi perhatian dalam upaya menjaga stabilitas.

“Mereka telah menyetujui tambahan tiga minggu, saya kira, tanpa tembakan, gencatan senjata, tidak ada tembakan lagi. Mari kita lihat. Kita berharap itu terjadi, tidak akan terjadi di antara mereka, tetapi mereka harus mempertimbangkan Hizbullah,” ujar Trump.

Trump juga menegaskan bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri apabila kembali menjadi sasaran serangan dari Hezbollah.

Di sisi lain, ia turut memperingatkan Iran terkait potensi ancaman keamanan di Selat Hormuz, khususnya mengenai kemungkinan pemasangan ranjau laut.

“Mereka bisa memasang ranjau di sana dan melakukan semua hal bodoh itu. Hanya saja akan butuh waktu lebih lama bagi mereka untuk menghasilkan uang, karena ranjau-ranjau itu akan lebih berdampak pada mereka daripada pada kita,” katanya.

Pernyataan Trump tersebut mencerminkan upaya Amerika Serikat untuk mendorong deeskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah sekaligus membuka ruang dialog di tengah situasi yang masih rapuh.

Sumber: NBC Newssinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: