Bahaya Ikan Sapu-sapu, Mengandung Bakteri dan Logam Berat

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Jumat, 08 Mei 2026 | 18:40 WIB
Tim dinas Pemkot Jakpus tangkap ikan sapu-sapu. (BeritaNasional/Lydia)
Tim dinas Pemkot Jakpus tangkap ikan sapu-sapu. (BeritaNasional/Lydia)

BeritaNasional.com - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menyoroti temuan hasil penelitian laboratorium terhadap ikan sapu-sapu di sejumlah perairan Jakarta, yang diketahui mengandung bakteri berbahaya bagi kesehatan.

"Berdasarkan hasil laboratorium, ikan sapu-sapu terdapat patogen dan residu logam berat yang berbahaya bagi kesehatan," kata Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok dalam webinar bertema "Dari Sungai ke Literasi."

Ia mengatakan, pemeriksaan itu dilakukan melalui pengambilan sampel di empat titik di wilayah Jakarta.

"Ada dua titik di Jakarta Selatan, satu di Jakarta Pusat, dan satu di Jakarta Barat," ujar Hasudungan.

Dari hasil pengujian laboratorium tersebut, kata dia, ditemukan kandungan residu mikroba di atas ambang batas yang telah ditetapkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Menurut dia, ikan sapu-sapu mengandung sejumlah bakteri patogen berbahaya, di antaranya E. coli dan Salmonella.

"Ternyata, residu mikrobanya juga di atas ambang batas yang sudah ditetapkan oleh BPOM," ucap Hasudungan.

Dia menjelaskan keberadaan bakteri tersebut sangat berbahaya apabila sampai menginfeksi manusia.

Selain kandungan bakteri, Dinas KPKP DKI juga menemukan ancaman lain berupa residu logam berat pada ikan sapu-sapu yang hidup di perairan yang tercemar.

Hasudungan menjelaskan, temuan itu menjadi salah satu alasan kuat ikan sapu-sapu tidak layak dijadikan bahan konsumsi masyarakat.

Oleh karena itu, sambung dia, pemerintah terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan invasif tersebut meskipun sempat muncul berbagai tren pengolahan ikan sapu-sapu menjadi makanan.

Hasudungan menambahkan persoalan ikan sapu-sapu bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem sungai.


Sumber: Antarasinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: