Laporan: Tren Kejahatan Siber Global, Ransomware Makin Mengganas

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 20 Mei 2026 | 00:30 WIB
Ilustrasi kejahatan siber (Foto/Pixabay)
Ilustrasi kejahatan siber (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Fortinet merilis laporan terbaru 2026 Global Threat Landscape Report yang mengungkap tren ancaman siber global sepanjang 2025.

Laporan dari FortiGuard Labs itu menunjukkan pelaku kejahatan siber kini semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat dan menyempurnakan serangan digital.

Menurut Fortinet, pola serangan siber kini tidak lagi berjalan secara terpisah, melainkan membentuk ekosistem yang terorganisasi. Pelaku ancaman memanfaatkan shadow agents dan layanan AI ilegal untuk mempercepat proses pengintaian hingga eksekusi serangan.

Chief Security Strategist and Global VP of Threat Intelligence FortiGuard Labs, Derek Manky, mengatakan AI telah mengubah cara kerja pelaku kejahatan siber menjadi jauh lebih agresif dan efisien.

“Pelaku ancaman mulai menggunakan agentic AI untuk melancarkan serangan yang semakin canggih. Tim keamanan siber harus mampu merespons dengan kecepatan yang sama menggunakan sistem pertahanan berbasis AI,” ujar Derek, dikutip dalam keterangannya, Rabu (19/5/2026).

Salah satu temuan utama dalam laporan tersebut adalah menyusutnya time-to-exploit (TTE) atau waktu yang dibutuhkan hacker untuk mengeksploitasi celah keamanan. Jika sebelumnya rata-rata mencapai 4,76 hari, kini serangan bisa dimulai hanya dalam 24 hingga 48 jam setelah kerentanan dipublikasikan.

Fortinet juga mencatat lonjakan tajam serangan ransomware secara global. Sepanjang 2025, tercatat 7.831 korban ransomware, naik drastis dibanding sekitar 1.600 kasus pada laporan tahun sebelumnya. Sektor manufaktur, layanan bisnis, dan ritel menjadi target utama serangan.

Secara geografis, Amerika Serikat menjadi negara dengan korban ransomware terbanyak, disusul Kanada dan Jerman.

Selain itu, risiko keamanan cloud juga meningkat akibat maraknya pencurian identitas digital. FortiGuard Labs menemukan sebagian besar insiden cloud berasal dari kredensial yang dicuri atau disalahgunakan, bukan dari kerusakan infrastruktur.

Rumah sakit, klinik, dan sektor ritel disebut menjadi sasaran utama karena memiliki sistem akses cloud yang kompleks dan jumlah identitas digital yang besar.

Fortinet turut menyoroti maraknya alat serangan berbasis AI di dark web seperti WormGPT, FraudGPT, hingga BruteForceAI. Teknologi tersebut memungkinkan pelaku kejahatan melancarkan serangan brute force dan pencurian data secara lebih cepat dan presisi.

Di sisi lain, malware pencuri data atau infostealer masih mendominasi ancaman siber global. RedLine tercatat sebagai malware paling aktif dengan lebih dari 911 ribu infeksi, diikuti Lumma dan Vidar.

Laporan ini menegaskan bahwa ancaman siber berbasis AI akan terus berkembang dan menjadi tantangan besar bagi perusahaan maupun institusi di seluruh dunia.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: