BRIN Ungkap 1 Kg Sampah Plastik Bisa Diolah Jadi 0,9 Liter Solar
BeritaNasional.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan solusi konkret untuk mengatasi persoalan sampah plastik di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
BRIN menyerahkan satu unit mesin pirolisis pengolah sampah kepada Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) Pilah Berkah Kapanewon Imogiri, Bantul.
Hebatnya, mesin ini mampu mengubah 1 kilogram (kg) sampah plastik menjadi 0,9 liter bahan bakar minyak (BBM) alternatif jenis solar.
Periset BRIN Heru Susanto menjelaskan teknologi yang digunakan adalah pirolisis. Ini merupakan proses dekomposisi termokimia untuk mengurai material organik (plastik) menjadi fase gas, cair, dan padat melalui pemanasan suhu tinggi antara 250 hingga 350 derajat Celsius, dengan kondisi minim atau tanpa oksigen.
"Prosesnya kurang lebih selama 7-8 jam untuk mengolah plastik menjadi solar," kata Heru yang dikutip dari Antara pada Selasa (9/6/2026).
Mengembalikan Sampah Residu Menjadi Minyak Bumi
Inovasi ini lahir dari keprihatinan Heru dan timnya terhadap menumpuknya sampah plastik berharga murah (low value) di Bantul.
Sampah jenis ini biasanya dianggap sebagai residu yang tidak laku dijual. Kalaupun ada yang mau membeli, harganya sangat jatuh, yakni berkisar antara Rp100 hingga Rp200 saja per kilogram.
"Sehingga itu tidak menarik bagi para pegiat daur ulang, kita melihat plastik kan asalnya dari minyak bumi, kita kembalikan menjadi minyak bumi," katanya.
Berangkat dari ide tersebut, BRIN berkolaborasi dengan Pertamina dan Pemkab Bantul untuk memfasilitasi KSM Pilah Berkah.
Tujuannya, sampah yang tadinya tidak berharga bisa naik kelas menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi bernama Petasol, alias solar alternatif.
"Satu kilogram sampah plastik, itu bisa menghasilkan 0,8-0,9 liter solar," jelasnya.
Namun, Heru mengingatkan bahwa proses konversi ini tidak instan. Plastik harus melewati rantai pengolahan yang cukup panjang.
"Hingga akhirnya diperoleh solar (Petasol) yang siap digunakan pada mesin kendaraan berbasis solar," kata Heru.
Potensi Cuan Menggiurkan dari Sampah
Dari sisi bisnis, inovasi ini menawarkan potensi keuntungan yang sangat lumayan bagi kelompok pengelola.
Heru menaksir biaya produksi untuk mengolah sampah tersebut hanya memakan biaya sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per liter, sedangkan solar alternatif yang dihasilkan berpotensi dijual secara internal dengan harga mencapai Rp10.000 per liter.
"Untungnya Rp6.000-Rp7.000 per liter, sedangkan sehari bisa menghasilkan 40-45 liter dari 50 kilogram plastik, tinggal kalikan saja," jelasnya.
Hampir semua jenis sampah plastik bernilai rendah bisa disulap menjadi solar menggunakan mesin ini.
Hasilnya akan jauh lebih berkualitas dan maksimal jika sampah plastik yang dimasukkan berada dalam kondisi kering.
Meski begitu, tidak semua jenis plastik bisa ditelan oleh mesin pirolisis ini. Ada satu jenis plastik yang menjadi pengecualian demi faktor keamanan lingkungan.
"Yang tidak bisa itu jenis PVC, karena banyak mengandung klorin yang kalau dibakar menimbulkan asap (berbahaya)," kata Heru.
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu






