Trump Minta Publik Lupakan Kasus Epstein, Kongres AS dan Korban Terus Tuntut Keadilan
BeritaNasional.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan pernyataan mengejutkan dengan meminta rakyat Amerika Serikat (AS) untuk segera menyudahi polemik seputar kasus Jeffrey Epstein, pedofil paling tersohor di dunia.
Hal ini disampaikan setelah Departemen Kehakiman (DOJ) merilis jutaan dokumen terkait penyelidikan perdagangan seks yang melibatkan Epstein.
"Saya pikir sudah saatnya negara ini mungkin beralih ke hal lain," ujar Trump yang dikutip dari Xinhua News pada Selasa (10/2/2026).
Namun, keinginan Trump agar negara melupakan skandal tersebut tampaknya menemui jalan buntu.
Kongres dan para korban justru semakin gencar menuntut transparansi total atas berkas-berkas yang dianggap masih disembunyikan.
Pemimpin Minoritas dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, melontarkan kritik pedas dengan menuduh pemerintahan Trump gagal mematuhi undang-undang tahun lalu yang mewajibkan untuk merilis seluruh materi penyelidikan.
Schumer mencurigai adanya dokumen yang sengaja ditahan, termasuk memo yang melibatkan rekan konspirator.
"Apakah setiap dokumen yang menyebutkan kata Trump telah dirilis?" tanya Schumer secara terbuka dalam pernyataan tertulisnya.
Di sisi lain, Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menegaskan pemerintah telah menyelesaikan peninjauan berkas sesuai prosedur. Meski diakui banyak terdapat foto dan email, Blanche menyatakan tidak ditemukan dasar yang kuat untuk penuntutan baru.
Keluarga Clinton Dipanggil, Korban Merasa Dikhianati
Meski Senat yang dikuasai Partai Republik menolak upaya gugatan Demokrat terhadap pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat tetap melanjutkan penyelidikan mandiri.
Mantan Presiden Bill Clinton dan mantan Menlu Hillary Clinton dijadwalkan memberikan kesaksian akhir bulan ini di bawah ancaman tuntutan jika mangkir.
Kekecewaan mendalam juga disuarakan oleh para korban. Lisa Phillips, salah satu penyintas aksi keji Epstein, merasa Departemen Kehakiman telah mempermainkan mereka dengan mengungkap nama-nama korban namun menutupi dokumen kunci lainnya.
"Kami merasa mereka mempermainkan kami, tetapi kami tidak akan berhenti berjuang," tegas Phillips.
Peneliti Senior di Brookings Institution, Darrell West, menilai publik Amerika belum siap untuk melupakan kisah kelam ini karena banyaknya tokoh berpengaruh seperti Bill Gates, Bill Clinton, hingga Trump sendiri yang namanya terseret dalam berkas, meski tanpa tuduhan kesalahan.
West menyoroti ketimpangan antara luasnya skandal dengan sikap dingin pemerintah saat ini.
"Pihak administrasi telah menyatakan bahwa tidak akan ada lagi pembebasan, penyelidikan, atau dakwaan. Namun, luasnya perilaku buruk tersebut membuat banyak orang mempertanyakan pendekatan itu," kata Darrell West.
Ia menambahkan upaya pemerintah untuk menutup buku kasus ini kemungkinan besar akan gagal.
"Epstein kemungkinan akan tetap menjadi sorotan berita meskipun pemerintah telah berupaya mengakhiri kasus ini," tutupnya.
Senada dengan West, Clay Ramsay dari Universitas Maryland memprediksi perhatian publik akan terus bergejolak tanpa batas waktu, mengingat besarnya tuntutan akan keadilan dan pertanggungjawaban moral bagi mereka yang terlibat dalam lingkaran Epstein.
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







