WHO Peringatkan Ancaman Lonjakan Kasus HIV di Asia-Pasifik Akibat Krisis Pendanaan Global
BeritaNasional.com - Kantor Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Pasifik Barat mengeluarkan peringatan serius terkait masa depan penanganan HIV.
Pihak WHO menyebutkan bahwa seretnya kucuran dana global saat ini berpotensi besar memperlemah berbagai program penekanan penyebaran HIV di kawasan Asia dan Pasifik.
Padahal, wilayah Asia-Pasifik saat ini tercatat sebagai rumah bagi epidemi HIV terbesar kedua di dunia.
Berdasarkan data dari badan regional WHO, ada sekitar 7 juta orang di kawasan ini yang hidup dengan HIV.
Ironisnya, angka tersebut terus bertambah dengan perkiraan 280.000 kasus infeksi baru serta 120.000 kematian akibat komplikasi terkait AIDS setiap tahunnya.
Beberapa negara di kawasan ini, seperti Filipina, Fiji, dan Papua Nugini, bahkan menjadi wilayah dengan pertumbuhan epidemi HIV tercepat di dunia.
Ketergantungan Dana Asing Jadi Celah Rapuh
WHO menyoroti perubahan drastis pada peta pembiayaan kesehatan saat ini. Bantuan pembangunan global serta sokongan dana internasional untuk penanggulangan HIV dilaporkan merosot tajam.
Kondisi ini menjadi ancaman nyata karena struktur pendanaan penanganan HIV di Asia-Pasifik masih belum mandiri. Tercatat sekitar 76 persen biaya untuk program pencegahan HIV di wilayah ini masih bergantung pada kantong donor luar negeri.
Akibat penyusutan bantuan internasional ini, berbagai layanan penjangkauan lapangan serta fasilitas kesehatan berbasis komunitas yang menyasar populasi kunci kini berada dalam posisi yang sangat rentan.
Mendesak Komitmen Pemerintah Daerah
Merespons situasi kritis ini, WHO merekomendasikan sejumlah langkah strategis bagi pemerintah di negara-negara terkait.
Pemerintah setempat didesak untuk mulai mengambil alih tanggung jawab finansial guna menambal hilangnya dana dari pihak eksternal.
Selain itu, WHO mengimbau agar penanganan HIV segera diintegrasikan ke dalam program jaminan kesehatan nasional dan layanan kesehatan primer (puskesmas/klinik dasar).
Negara-negara di Asia-Pasifik juga diminta untuk memperkuat sistem data nasional, meruntuhkan stigma dan hambatan sosial yang menghalangi pasien mengakses pengobatan, serta mempercepat adopsi inovasi medis terbaru dalam penanganan HIV.
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu






