Keuskupan Agung San Francisco Bayar 395 Juta Dolar AS atas 500 Lebih Gugatan Pelecehan Anak

Oleh: Kiswondari
Rabu, 01 Juli 2026 | 08:02 WIB
Kantor Keuskupan Agung Katolik San Francisco, AS. (BeritaNasional/Archdiocese of San Francisco)
Kantor Keuskupan Agung Katolik San Francisco, AS. (BeritaNasional/Archdiocese of San Francisco)

BeritaNasional.com - Guna menyelesaikan 500 lebih gugatan pelecehan seksual anak, Keuskupan Agung Katolik San Francisco menyetujui untuk membayar 395 juta dolar AS untuk menyelesaikan gugatan atas peristiwa yang terjadi di masa lalu selama beberapa dekade. Sejumlah Gereja Katolik AS di beberapa negara bagian juga melakukan hal serupa atas gugatan pelecehan yang meluas dalam beberapa tahun terakhir.

Melansir Russian Today (RT) pada Rabu (1/7/2026), hal ini diumumkan pada hari Senin (29/6/2026) kemarin, terkait dengan kebangkrutan Bab 11 bahwa keuskupan agung akan menyelesaikan semua tuntutan hukum yang diajukan terhadapnya, berdasarkan Rancangan Undang-Undang Majelis California 218. Sebuah aturan tahun 2019 yang sifatnya temporer untuk menghidupkan kembali klaim perdata yang telah telah kedaluwarsa karena batasan waktu.

Menurut pengacara penggugat, sebagai bagian dari penyelesaian, Uskup Agung Salvatore J. Cordileone juga diwajibkan untuk menulis surat permintaan maaf kepada setiap korban. Keuskupan agung juga harus menerapkan serangkaian reformasi perlindungan anak dan transparansi, termasuk memelihara dan menerbitkan daftar pendeta yang dituduh melakukan pelecehan dan melarang perjanjian kerahasiaan yang membungkam para korban.

Dalam suratnya kepada para jemaat, Cordileone mengatakan bahwa “tidak ada penyelesaian finansial yang dapat menghapus warisan menyakitkan” dari pelecehan di masa lalu, namun ia berpendapat bahwa proposal tersebut menawarkan sebuah kompensasi bagi para penyintas.

“Jalan menuju kompensasi yang adil bagi para penyintas yang telah menanggung beban pelecehan ini seumur hidup,” tulis Cordileone.

“Meskipun sebagian besar klaim pelecehan seksual… melibatkan insiden yang terjadi beberapa dekade lalu dan individu yang telah meninggal atau tidak lagi melayani, kami menerima tanggung jawab atas kegagalan yang memungkinkan terjadinya kerugian ini,” tulisnya lagi.

“Saya dengan tulus meminta maaf kepada semua orang yang telah menderita karena kegagalan tersebut,” tulis Cordileone memohon maaf pada para penyintas. 

Sebelumnya, Keuskupan Agung Katolik San Fransisko mengajukan perlindungan kebangkrutan pada Agustus 2023 setelah menghadapi lebih dari 500 tuntutan perdata. Sebuah komite yang dipimpin oleh para penyintas juga diharapkan dapat membantu menetapkan protokol untuk mendistribusikan dana tersebut, dengan setiap penggugat diberi kesempatan untuk menyampaikan kisah mereka kepada komite tersebut.

Keuskupan Agung San Francisco melayani sekitar 442.000 umat Katolik di seluruh wilayah San Francisco, San Mateo, dan Marin. Dalam pernyataannya, keuskupan agung mengatakan bahwa paroki, sekolah, dan entitas terkait lainnya harus menyumbangkan dana dan aset yang tidak dibatasi untuk penyelesaian masalah tersebut, sementara sumbangan yang dibatasi oleh donor dan dana permohonan tahunan tidak akan digunakan.

Kasus pelecehan anak di Keuskupan Agung San Francisco adalah yang terbaru dalam gelombang penyelesaian besar dan pengajuan kebangkrutan oleh keuskupan Katolik di seluruh AS, banyak kasus di antaranya dipicu oleh undang-undang negara bagian yang membuka kembali peluang hukum untuk klaim pelecehan di masa lalu.

Pada awal 2026, Keuskupan Brooklyn mengatakan bahwa mereka berupaya menyelesaikan sekitar 1.100 klaim pelecehan seksual anak, yang sebagian besar berasal dari tahun 1960-an dan 1970-an.

Sebelumnya pada Oktober 2024, Keuskupan Agung Los Angeles juga sepakat untuk membayar 880 juta dolar AS untuk menyelesaikan 1.353 klaim pelecehan seksual anak, salah satu penyelesaian kasus terbesar yang melibatkan keuskupan agung Katolik.

Pada 2023, Keuskupan Agung Baltimore juga mengajukan permohonan kebangkrutan Bab 11 usai Maryland mengesahkan UU yang menghapus batasan waktu dalam gugatan pelecehan seksual anak.

Sumber: Russian Todaysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: