2 Kota di Inggris Larang Minum Minuman Alkohol di Tempat Umum, Ini Penyebabnya!
BeritaNasional.com - Seiring dengan masifnya perilaku anti-sosial seperti, perkelahian di pantai, penangkapan, pencurian dan keluhan dari pebisnis lokal, dua kota tepi pantai di Inggris yakni, Margate dan Ramsgate memberlakukan larangan konsumsi alkohol di tempat umum selama tiga tahun.
Melansir Russian Today (RT) pada Kamis (2/7/2026), peraturan larangan minum minuman beralkohol di tempat umum dan area ousat kota tersebut mulai berlaku pada Rabu (1/7/2026) di Margate dan Ramsgate, di pesisir Kent. Berdasarkan peraturan baru ini, polisi akan berhak untuk menyita alkohol dari siapa pun di jalan, dan mereka yang menolak dapat dikenakan denda sebesar 1.000 poundsterling (setara 1.300 dolar AS).
Meskipun minum minuman beralkohol di tempat umum sepenuhnya legal di sebagian besar wilayah Inggris dan Wales, dewan lokal semakin sering menggunakan Perintah Perlindungan Ruang Publik (PSPO) yang ditargetkan untuk membatasi konsumsi alkohol di daerah-daerah yang menghadapi masalah perilaku anti-sosial.
Di pusat kota Margate, otoritas setempat melaporkan bahwa keributan dan kekacauan yang dipicu alkohol kini menyumbang sekitar 73 persen dari semua insiden penegakan hukum, menyebabkan jalanan dipenuhi dengan buang air kecil, buang air besar di tempat umum, dan perkelahian di jalanan.
Larangan minum minuman beralkohol di tempat umum ini dilakukan menyusul serangkaian insiden di pesisir pantai, di mana Kepolisian Kent melaporkan "sejumlah besar" orang dari luar kota membanjiri Margate dan sekitar Broadstairs, yang memicu perkelahian massal di pantai dan penyerangan di Stasiun Kereta Api Margate.
Polisi setempat mencatat, para pelaku sebagian besar adalah remaja dan orang dewasa muda berusia 16-18 tahun, yang menggunakan jaringan kereta api untuk membanjiri pantai tanpa terkendali dari London dan pedalaman Kent selama gelombang panas dan liburan sekolah. Di seluruh Kent, polisi mencatat lebih dari 10.200 laporan perilaku anti-sosial pada musim panas lalu.
Kekacauan dari perilaku yang disebabkan alkohol ini juga memicu banyaknya keluhan dari bisnis lokal, yang mengklaim bahwa kawasan pesisir telah berubah menjadi zona tanpa hukum.
Seorang manajer toko menggambarkan gerombolan remaja menyerbu toko-toko ritel untuk mencuri barang dagangan, sementara restoran-restoran di tepi pantai terpaksa menutup pintu mereka lebih awal pada hari-hari puncak musim panas untuk melindungi karyawan mereka dari perkelahian jalanan yang berbahaya. Bahkan, beberapa pemilik bisnis mengatakan bahwa mereka berencana untuk meninggalkan daerah tersebut sepenuhnya.
Sebagian orang memuji larangan konsumsi alkohol di tempat umum ini sebagai langkah yang diperlukan, namun ditentang keras oleh netizen yang skeptis. Mereka berpendapat bahwa penegakan hukum yang lebih ketat justru diperlukan, dan pembatasan hukum baru tidak akan mencegah gerombolan pemuda yang berjumlah 50 orang yang sudah mabuk secara ilegal.
Selain itu, sebagian pihak juga mengecam langkah tersebut sebagai bentuk "otoritarianisme", dengan alasan bahwa larangan minum minuman beralkohol di tempat umum secara tidak proporsional menghukum warga yang taat hukum, bukan para pemuda yang melakukan kekerasan dan bertanggung jawab atas kekacauan tersebut.
Sumber: Russian Today
EKBIS | 1 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu







