Bukan BMI, Para Ilmuwan Usulkan Cara Baru Hitung Kelebihan Lemak Tubuh yang Tepat
BeritaNasional.com - Jika selama ini menghitung kelebihan berat badan menggunakan body mass index atau BMI, sebuah komite ilmuwan internasional telah mengusulkan cara baru untuk menentukan kelebihan lemak tubuh melalui sebuah jurnal kesehatan yang dirilis pada Januari 2026.
Melansir PEOPLE pada Senin (6/7/2026), lebih dari 50 pakar di bidang nutrisi, endokrinologi, dan kesehatan masyarakat menerbitkan rekomendasi mereka melalui jurnal peer-reviewed The Lancet Diabetes & Endocrinology pada 14 Januari. Hasilnya, BMI yang selama ini digunakan oleh para profesional medis dalam menentukan rentang berat badan sehat, tidak memberikan penilaian kesehatan yang cukup mendalam terkait dengan berat badan.
Laporan Lancet juga menunjukkan bahwa metrik lain jauh lebih berguna dalam menentukan kesehatan pasien secara keseluruhan yakni, jumlah lemak perut yang mereka miliki.
Para ilmuwan mencatat bahwa untuk memperoleh informasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk mengukur lingkar pinggang seseorang, rasio pinggang-pinggul, atau rasio pinggang-tinggi. Terdapat juga pemindaian yang dapat menentukan jumlah pasti lemak perut berlebih pada pasien.
Sementara itu, menurut National Institutes of Health, BMI dihitung hanya dengan menggunakan dua set data yakni tinggi dan berat badan pasien.
Jurnal tersebut mencatat bahwa BMI dapat menyebabkan pelaporan obesitas yang berlebihan maupun kurang. Misalnya, seorang atlet dengan sedikit lemak tubuh tetapi memiliki massa otot yang signifikan mungkin mendapatkan skor dalam kisaran BMI "obesitas". Dan seseorang dengan BMI "sehat" mungkin memiliki kelebihan lemak di sekitar organ internalnya.
Dalam wawancaranya dengan NPR, Dr. Robert Kushner, seorang ahli endokrinologi di Northwestern University yang jadi bagian penelitian tersebut, mencatat bahwa lemak perut secara khusus menempatkan pasien pada risiko sejumlah masalah kesehatan.
"Lemak di perut menyebabkan peradangan sistemik, yang kemudian berlanjut dan menyebabkan masalah metabolisme lainnya seperti peningkatan gula darah, peningkatan tekanan darah, dan peningkatan lemak dalam darah," kata Kushner kepada NPR.
"Ini dapat membuka jalan bagi penyakit metabolisme termasuk diabetes serta penyakit jantung," imbuhnya.
Kushner juga mengatakan bahwa komisi tersebut tidak merekomendasikan penghapusan BMI sepenuhnya, tetapi menekankan pentingnya penggunaan metrik penting lainnya ini untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang kesehatan pasien.
Kemudian, Dr. David Cummings, seorang ahli obesitas di Universitas Washington yang tergabung dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa tujuan dari laporan baru ini adalah untuk mendapatkan definisi obesitas yang lebih tepat
"Sehingga kita dapat menargetkan orang-orang yang benar-benar paling membutuhkan bantuan," ungkap Cummings kepada PBS News.
Laporan tersebut juga merekomendasikan agar para profesional medis mulai menggunakan dua kategori diagnostik yang berbeda dalam hal obesitas yakni, obesitas klinis dan obesitas praklinis.
Sebagai informasi, pasien yang didefinisikan sebagai obesitas klinis adalah mereka yang menunjukkan kelebihan lemak tubuh sekaligus menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan terkait berat badan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan nyeri sendi kronis. Sementara obesitas praklinis didefinisikan sebagai mereka yang memiliki kelebihan berat badan tetapi belum menunjukkan kondisi kesehatan kronis yang biasanya terkait dengannya.
GAYA HIDUP | 1 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu







