Netanyahu Tiba di Washington, Bertemu Trump Bahas Perang Gaza

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 28 Juli 2026 | 06:34 WIB
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Foto/whitehouse)
Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Foto/whitehouse)

BeritaNasional.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tiba di Washington, Amerika Serikat, menjelang pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Selasa (29/7/2026) waktu setempat.

Seperti dkutip dari aljazeera, kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda pembahasan mengenai perkembangan perang di Gaza serta dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.

Selain bertemu Trump, Netanyahu juga dijadwalkan menghadiri acara penghormatan bagi mendiang Senator Partai Republik Lindsey Graham, yang dikenal sebagai salah satu pendukung kuat Israel.

Di tengah kunjungan itu, sekitar 600 mantan pejabat militer, intelijen, dan kepolisian Israel mengirim surat kepada Trump. Mereka meminta presiden AS tersebut mendesak Netanyahu mengambil langkah tegas untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Surat tersebut ditandatangani sejumlah tokoh keamanan senior, termasuk mantan Wakil Kepala Staf Militer Israel Matan Vilnai.

Para penandatangan menilai meningkatnya kekerasan pemukim tidak hanya mengancam keamanan Israel, tetapi juga kepentingan Amerika Serikat di kawasan.

Data United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) mencatat terdapat 3.033 serangan yang melibatkan pemukim Israel di Tepi Barat dalam periode 1 Januari 2025 hingga 30 Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan tren peningkatan sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023.

Sementara itu, peneliti senior Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai Trump kemungkinan ingin segera mengakhiri keterlibatannya dalam konflik tersebut dengan mengklaim telah mencapai keberhasilan.

"Trump telah beberapa kali mengubah arah kebijakannya dalam lima bulan terakhir," kata Vatanka.

Menurut dia, waktu menjadi faktor penting bagi Trump karena pemilu paruh waktu di Amerika Serikat semakin dekat.

"Dengan pemilu paruh waktu yang tinggal beberapa bulan lagi, waktu tidak sepenuhnya berpihak kepada Trump. Namun, ia bisa saja memilih menyatakan telah meraih kemenangan lalu beralih ke agenda lain," ujarnya.

Vatanka juga menilai hingga kini Trump belum memiliki visi yang jelas mengenai tujuan utama keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik tersebut.

"Salah satu masalah terbesar Trump adalah belum mampu merumuskan visi yang jelas mengenai tujuan perang ini. Selat Hormuz bukanlah persoalan sebelum perang dimulai. Justru setelah perang berlangsung, kawasan itu menjadi masalah. Itu bisa disebut sebagai gol bunuh diri," tandas Vatanka.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: