Fenomena Decision Anxiety, Dilema Baru Saat Memilih Kampus di 2026

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 26 April 2026 | 23:03 WIB
Warga bersantai di Taman Tebet Eco, Jakarta. Selasa (31/3/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Warga bersantai di Taman Tebet Eco, Jakarta. Selasa (31/3/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Memilih perguruan tinggi di 2026 tak lagi sekadar menentukan kampus tujuan. Bagi banyak keluarga, ini berubah menjadi keputusan besar yang sarat tekanan.

Fenomena decision anxiety kini makin terasa, seiring banjir informasi, banyaknya pilihan, dan ketidakpastian dunia kerja yang terus berubah.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Data menunjukkan sekitar 36% pemuda Indonesia bekerja di bidang yang tidak selaras dengan latar pendidikan mereka. Bagi orang tua, angka ini menjadi alarm biaya kuliah yang tidak sedikit harus berujung pada hasil yang jelas dan relevan.

Menurut Dr. Istiani, M.Psi., Psikolog BINUS University, kompleksitas pengambilan keputusan pendidikan saat ini jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Ada tekanan untuk memberikan pendidikan terbaik, sekaligus memastikan pilihan tersebut aman secara finansial dan berdampak nyata ke masa depan anak.

“Orang tua saat ini menghadapi tekanan ganda: ingin memberikan yang terbaik untuk anak, tetapi juga harus memastikan keputusan tersebut aman secara finansial dan relevan dengan masa depan anak,” jelas Dr. Istiani, dikutip dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).

“Rasa yakin dalam memilih pendidikan sangat dipengaruhi oleh seberapa jelas orang tua melihat arah masa depan anak mereka,” ucapnya lebih lanjut.

Gambaran Masa Depan konkret

Selain itu kini semakin banyak orang tua memandang pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang bukan hanya pengeluaran. Mereka ingin melihat hasilnya sejak dini, bahkan sebelum anak lulus kuliah.

Direktur Kampus BINUS Bekasi, Prof. Gatot Soepriyanto, menilai kunci meredakan decision anxiety adalah kejelasan arah. Orang tua tidak lagi cukup dengan mengetahui apa yang dipelajari anak, tetapi juga ingin gambaran masa depan yang lebih konkret.

“Orang tua saat ini tidak hanya bertanya ‘anak saya belajar apa?’, tetapi ‘anak saya jadi apa?’. Itulah sebabnya kami mengintegrasikan industri langsung ke dalam kelas kami, sebagai Business, Service & Technology Campus,” ujar Prof. Gatot.

Menurutnya, paparan dunia industri sejak awal perkuliahan bisa menjadi faktor penting yang memberi rasa aman bagi orang tua.

Dengan arah yang lebih jelas, keputusan memilih kampus tak lagi terasa sebagai lompatan besar yang penuh ketidakpastian, melainkan langkah terukur menuju masa depan.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: