Pengacara Korban Robot Trading Fahrenheit yang Bawa Kabur Uang Barang Bukti Ditangkap!

BeritaNasional.com - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta akhirnya berhasil menangkap satu buron kasus dugaan tindak pidana korupsi pengembalian barang bukti perkara investasi bodong Robot Trading Fahrenheit sebesar Rp23,3 miliar
Demikian disampaikan Aspidsus Kejati Jakarta, Syarief Sulaeman Nahdi bahwa buron tersebut merupakan pengacara dari korban Robot Trading Fahrenheit berinisal OS.
"Sudah semalam ditangkap jam 1," ujar Syarief saat dikonfirmasi, Jumat (28/2/2025).
Syarief melanjutkan, kini status OS sudah menjadi tersangka dan langsung dilakukan penahanan di Rutan Salemba cabag Kejari Jakarta Selatan.
"Ditahan di Rutan (Kejari) Jakarta Selatan," pungkasnya.
Adapun OS turut terlibat bersama tersangka lain yakni AZ seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Barat, lalu BG selaku pengacara dari para korban investasi bodong Robot Trading Fahrenheit
Mereka diduga turut melakukan dugaan penggelapan barang bukti perkara investasi bodong Robot Trading Fahrenheit sebesar Rp23,3 miliar dari total Rp61,4 miliar yang seharusnya dikembalikan kepada korban.
Akibat perbuatannya, mereka disangkakan Pasal 5 ayat (2), Pasal 11, Pasal 12 Huruf e, Pasal 12B Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
8 bulan yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu